Wednesday, October 1, 2014

Contoh RPP Kurikulum 2013

Sebagian guru banyak yang masih bingung dalam membuat perangkat pembelajaran terutama RPP untuk kurikulum 2013, ini saya berikan contoh RPP untuk kurikulum 2013

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Satuan Pendidikan   : MTs …………
Kelas/Semester         : VII / 1
Mata Pelajaran          : Aqidah dan Akhlaq
Materi Pokok             : Asmaul Husna: al-‘Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir
Pertemuan ke-           : 2 dan 3
Alokasi Waktu           : 4 x 40 menit

A.  KOMPETENSI INTI
1.    Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
2.    Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3.    Memahami,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4.    Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
1.1 Menghayati Al-Qur'an sebagai implementasi dari pemahaman rukun iman
1.2 Beriman kepada Allah Swt.

2.1 Menghargai perilaku jujur sebagai implementasi dari pe­mahaman surah al-Baqarah 2: 42 dan hadis terkait

3.1 Memahami makna al-Asmaul Husna: al-‘Al³m, al-Khab³r, as-Sam³’, dan al-Ba¡³r secara bahasa
3.1.1 Menjelaskan makna al-‘alim secara bahasa
3.1.2 Menjelaskan makna al-khabir secara bahasa
3.1.3 Menjelaskan makna  as-sami secara bahasa     Pertm 1
3.1.4 Menjelaskan makna al-ba¡r secara bahasa.
4.1 Menyajikan contoh perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-Asmaul Husna: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir

4.1.1 Menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al asma ul husna: al-alim. Pertemuan 2
4.1.2 Menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al asma ul husna: al-khabir.                   
4.1.3 Menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al asma ul husna: as-sami’.
4.1.4 Menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al asma ul husna: al-bashir.

C.  Tujuan Pembelajaran
Pertemuan 1
Setelah membaca, mencermati, dan mendikusikan 2 buku Aqidah Akhlaq dan kamus bahasa Arab, siswa dapat 
1.  menjelaskan makna al-‘alim secara bahasa,
2.  menjelaskan makna al-khabir secara bahasa,
3.  menjelaskan makna  as-sami secara bahasa, dan      
4.  menjelaskan makna al-ba¡r secara bahasa dengan benar secara jujur.

Pertemuan 2
Setelah membaca, mencermati, dan mendikusikan buku kisah para nabi, ensiklopedi islam, dan buku Aqidah Akhlaq siswa dapat 
1.  menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-alim,
2.  menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-khabir,
3.  menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani as-sami’, dan
4.  menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-bajr dengan baik secara jujur dan bertanggung jawab.

D.  Materi Pembelajaran
Pertemuan 1
     Makna Asma ul Husna
1.  makna al-‘alim secara bahasa,
2.  makna al-khabir secara bahasa,
3.  makna  as-sami secara bahasa, dan      
4.  makna al-bashir secara bahasa

Pertemuan 2
     Penyajian kisah Asma ul Husna
1.  perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-alim,
2.  perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-khabir,
3.  perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani as-sami’, dan
4.  perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-bashir
 (Materi lengkap terlampir)

E.  Metode Pembelajaran
Pendekatan: Saintifik
Metode
1.   Ceramah          
2.   Tanya jawab
3.   Diskusi
4.   Inkuiri
5.   Penugasan

F.  Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan 1

Kegiatan
Deskripsi
Alokasi Waktu
A.  Pendahuluan
1.  Siswa menjawab salam guru, berdoa, tadarus, dan mengondisikan diri siap belajar.
2.  Siswa melafalkan asmaul husna bersama-sama.
3.  Siswa bertanya jawab berkaitan alam semesta dan pencipta alam semesta yang dibutuhkan sebagai umat Islam yang beriman.
4.  Siswa menyimak informasi guru tentang tujuan pembelajaran dan manfaat menguasai materi pembelajaran.
5.  Siswa menyimak informasi guru tentang pokok-pokok/cakupan materi pembelajaran.

8 menit
B.  Inti
MENGAMATI
1.  Siswa mengamati video tentang alam semesta Harun Yahya dengan teliti.
2.    Siswa  mengidentifikasi sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan teliti dan bertanggung jawab.
MENANYA
3.  Siswa membentuk kelompok (3-5 siswa).
4.  Siswa menyusun pertanyaan berkaitan dengan sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.

MENGEKSPLORASI (MENALAR)
5.  Siswa secara berkelompok mencari informasi tentang makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir di buku Aqidah Akhlaq, Kamus, dan ensiklopedia Islam secara sungguh-sungguh
6.  Siswa secara berkelompok mencatat beberapa makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan jujur.

MENGASOSIASI (MENCOBA)
7.  Siswa dengan cara berdiskusi menyusun simpulan rumusan makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.

MENGOMUNIKASIKAN
8.  Siswa menukarkan (atau menempelkan di papan pajang) rumusan makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.
9.  Siswa membaca secara kritis rumusan makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.
10.  Siswa menanggapi rumusan makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.
11.  Siswa memberi penilaian makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.
12.  Siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing.
10 menit





10 menit





15 menit






15 menit





10 menit
C.  Penutup
1.  Siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari.
2.  Siswa merenungkan/merefleksikan aktivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan mengisi internalisasi sikap religious beriman kepada Allah Swt dan merefleksi penguasaan materi yang telah dipelajari dengan membuat catatan penguasaan materi.
3.  Siswa mengerjakan evaluasi berkaitan dengan makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir.
4.  Siswa saling menukarkan hasil evaluasi untuk dikomentari sebagai  umpan balik hasil evaluasi pembelajaran yang telah dicapai.
5.  Siswa menyepakati tugas yang harus dilakukan untuk minggu berikutnya.
12 menit

Pertemuan 2

Kegiatan
Deskripsi
Alokasi Waktu
B.  Pendahuluan
1.  Siswa menjawab salam guru, berdoa, tadarus, dan mengonsisikan diri siap belajar.
2.  Siswa melafalkan asma ul-husna bersama-sama.
3.  Siswa mencermati dan bertanya jawab berkaitan alam semesta dan pencipta alam semesta yang dibutuhkan sebagai umat Islam yang beriman.
4.  Siswa menyimak informasi guru tentang tujuan pembelajaran dan manfaat menguasai materi pembelajaran.
5.  Siswa menyimak informasi guru tentang pokok-pokok/cakupan materi pembelajaran.
8 menit
B.  Inti
MENGAMATI
6.  Siswa mengamati video berkaitan dengan kisah-kisah tentang sifat Allah dengan al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir secara tekun.
7.  Siswa  mengidentifikasi perilaku  yang mencerminkan orang yang meneladani sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan teliti dan bertanggung jawab.

MENANYA
8.  Siswa membentuk kelompok (3-5 siswa).
9.  Siswa menyusun pertanyaan berkaitan dengan perilaku  yang mencerminkan orang yang meneladani sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan santun.

MENGEKSPLORASI (MENALAR)
10.  Siswa secara berkelompok mencari informasi tentang perilaku  yang mencerminkan orang yang meneladani makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir di buku Aqidah Akhlaq, ensiklopedia, kisah-kisah teladan secara sungguh-sungguh.
11.  Siswa secara berkelompok mencatat perilaku  yang mencerminkan orang yang meneladani sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan jujur.

MENGASOSIASI (MENCOBA)
12.  Siswa dengan cara berkelompok menyusun contoh kisah perilaku  yang mencerminkan orang yang meneladani sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir secara teliti dan santun.

MENGOMUNIKASIKAN
13.  Siswa menukarkan (atau menempelkan di papan pajang) rumusan contoh kisah perilaku  yang mencerminkan orang yang meneladani sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.
14.  Siswa membaca secara kritis rumusan rumusan contoh kisah perilaku  yang mencerminkan orang yang meneladani sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.
15.  Siswa menanggapi rumusan rumusan contoh kisah perilaku  yang mencerminkan orang yang meneladani sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.
16.  Siswa memberi penilaian rumusan contoh kisah perilaku  yang mencerminkan orang yang meneladani sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir dengan saling menghargai pendapat teman dan bahasa yang santun.
17.  Siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing.
10 menit








10 menit




15 menit








15 menit





10 menit
D.  Penutup
1.  Siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari.
2.  Siswa merenungkan/merefleksikan aktivitas pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan mengisi internalisasi sikap religious beriman kepada Allah Swt dan merefleksi penguasaan materi yang telah dipelajari dengan membuat catatan penguasaan materi.
3.  Siswa mengerjakan evaluasi berkaitan dengan makna sifat Allah: al-’Alim, al-Khabir, as-Sami’, dan al-Bashir.
4.  Siswa saling menukarkan hasil evaluasi untuk dikomentari sebagai  umpan balik hasil evaluasi pembelajaran yang telah dicapai.
5.  Siswa menyepakati tugas yang harus dilakukan untuk minggu berikutnya.
12 menit

G. Media, Alat, dan Sumber Belajar
1.   Media : LCD, Laptop
2.   Alat     : -
3.   Sumber belajar
Kemenag, 2013. Aqidah dan Akhlaq untuk Kelas X. Jakarta: Kemenag.
  
H.  Penilaian
1.  Sikap Spiritual
a.  Teknik Penilaian   : Penilaian diri
b.  Bentuk Instrumen : Lembar penilaian diri
c.    Kisi-kisi

No.
Kompetensi yang Dinilai
Format Penilaian
1
Meyakini Allah memiliki sifat al-‘alim
Terlampir
2
Meyakini Allah memiliki sifat al-khabir
Terlampir
3
Meyakini Allah memiliki sifat  as-sami     
Terlampir
4
Meyakini Allah memiliki sifat al-ba¡r
Terlampir

2.    Sikap Sosial
a.  Teknik Penilaian   : Observasi
b.  Bentuk Instrumen : Panduan observasi
c.  Kisi-kisi

No.
Kompetensi yang Dinilai
Format Penilaian
1
Jujur
Terlampir
2
Teliti
Terlampir
3
Tanggung jawab
Terlampir
4
Santun
Terlampir

5. Menghargai pendapat teman
Terlampir

3.    Pengetahuan
a.  Teknik Penilaian   : Tes Tulis
b.  Bentuk Instrumen : Uraian
c.  Kisi-kisi

No.
Indikator
Butir Instrumen
1
Menjelaskan makna al-‘alim secara bahasa
Jelaskan makna al-‘alim secara bahasa dengan benar!
2
Menjelaskan makna al-khabir secara bahasa
Jelaskan makna al-khabir secara bahasa dengan benar!
3
Menjelaskan makna  as-sami secara bahasa    
Jelaskan makna  as-sami secara bahasa dengan benar!    
4
Menjelaskan makna al-bashir secara bahasa
Jelaskan makna al-ba¡r secara bahasa dengan benar!

4.    Keterampilan
a.  Teknik Penilaian   : Praktik
b.  Bentuk Instrumen : Rubrik
c.  Kisi-kisi

No.
Indikator
Butir Instrumen
1
Menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-alim,
Tuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-alim dengan benar!
2
Menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-khabir
Teliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-khabir dengan benar!
3
Menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani as-sami’.
Tuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani as-sami’!
4
Menuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-bajr
Tuliskan contoh kisah perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani al-bajr dengan benar!

                                                                                             Pati, ……………2013
Mengetahui,
Kepala MTs/SMP ……....,                                                   Guru Mata Pelajaran,   




………………………………..                                                     ………………………………….                


video reuni KMMF tahun 2013

Berikut kumpulan video reuni Alumni Madrasah Manabiul Falah Ngemplak Kidul Margoyoso Pati, yang dilaksanakan tanggal 12 November 2013, yang di hadiri oleh KH. Rif'an dari Tuban dam KH. Adnan Kasogi dari Kudus, video ini saya bagi menjadi beberapa episode, silahkan dilihat
1. Part 1 Klik 1
2. Part 2 Klik 2
3. Part 3 Klik 3
4. Part 4 Klik 4
5. Part 5 Klik 5
6. Part 6 Klik 6
7. Part 7 Klik 7
8. Part 8 Klik 8
9. Part 9 Klik 9
10. Part 10 Klik 10
11. Part 11 Klik 11
demikian, semoga bermanfaat

Tuesday, September 30, 2014

Video Wisuda Siswa Madrasah Manabiul Falah 2012/2013


Karena banyak permintaan teman-teman alumni, agar saya mengupload video wisuda maka sudah saya upload via youtube dan ini linknya, tapi baru terbatas wisuda ke-30 tahun 2012/2013 :
1. Episode 1 klik 1
2. Episode 2 klik 2
3. Episode 3 klik 3
4. Episode 4 klik 4
5. Episode 5 klik 5
6. Episode 6 klik 6
7. Episode 7 klik 7
8. Episode 8 klik 8
9. Episode 9 klik 9
Semoga bermanfaat, saran dan kritik kami tunggu...

Tuesday, January 21, 2014

MENGURUS JENAZAH

Apabila kita dapati seseorang yang baru meninggal dunia, maka tindakan yang harus kita lakukan pertama kali adalah sebagai berikut :

1. Mengikat kepala mayit
2. Meletakkan tangan mayit di atas perut (seperti tangan orang yang sedang melaksanakan sholat)
3. Mengikat dan menyatukan persendian lutut
4. Menyatukan kedua ibu jari kaki
5. Menghadapkan mayit ke arah kiblat.

A. TENTANG CARA MEMANDIKAN JENAZAH
I. Pendahuluan

Apabila kita dapati seseorang yang baru meninggal, maka tindakan yang harus kita lakukan pertama kali adalah sebagai berikut :
a. Mengikat kepala mayit
b. Meletakkkan tangannya di atas perut (seperti tangan orang yang sedang melakukan sholat
c. Mengikat dan menyatukan persendian lutut
d. Menyatukan kedua ibu jari kaki
e. Menghadapkan mayit kea rah kiblat.

II. Cara memandikan mayat

Setelah mayit di letakkan pada tempat yang disediakan, maka kita tutupi seluruh tubuhnya dengan kain yang agak tipis sehingga bila disiram dengan air dapat membasahi seluruh anggota tubuhnya. Maka mulailah kita memandikannya dengan tata cara sebagai berikut :
a. Mula-mula kita sediakaan air sebanyak mungkin, sedikit air jeruk (jeruk purut), air bedara, air kapur barus dan sabun.Yang pertama kali kita lakukan ialah menyiram seluruh tubuhnya dengan air bersih mulai dari kepala sampai ke ujung kakinya, dengan niat memandikan mayat sebagai berikut :

1. Jika mayat laki-laki dewasa,lafadz niatnya adalah :
(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit fardhal kifaayati lillahita’ala).
Artinya : Sengaja aku memandikan mayat ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

2. Jika mayat perempuan dewaasa,lafadz niatnya adalah:
(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati fardhal kifaayati lillahita’ala)
Artinya : Sengaja aku memandikan mayat perempuan dewasa ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

3. Jika mayat kanak-kanak laki-laki, lafadz niatnya adalah :
(Nawaitul ghusla lihaadzal mayyit tifli fardhal kifaayati lillahita’ala).
Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak-kanak laki-laki ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

4. Jika mayat kanak-kanak perempuan,lafadz niatnya adalah :
(Nawaitul ghusla lihaadzihil mayyitati tiflati fardhal kifaayati lillahita’ala).
Artinya : Sengaja aku memandikan mayat kanak -Kanak perempuan ini, fardhu kifayah karena Allah Ta’ala.

b. Kemudian kita ambil air yang bercampur dengan jeruk (jeruk purut),maka kita sirami semua persendiannya untuk melemahkan anggota yang kaku/tegang, agar mudah membersihkan anggota tubuh mayat. Selanjutnya kita bersihkan seluruh anggota dengan sabun,dan kita buang segala kotoran-kotoran yang masih ada pada mayat itu,sampai sebersih-bersihnya,dan sunnat membasuh anggota wudhunya terlebih dahulu dengan mendahulukan yang kanan dari yang kiri.

c. Kemudian dari pada itu, maka kita dudukkan mayat itu dengan keadaan condong ke belakang, kemudian kita tekan-tekan (diramas) perutnya perlahan-lahan dan tangan kiri kita yang sudah dibalut dengan kain (atau dibuat berbentuk sarung tangan) mencuci kubul dan dubulnya dengan niat istinja’ bagi mayat.Lafadz niatnya adalah sebagai berikut :

(Nawaitul istinjaa-i minal mayyit fardhan a’layya lillahi ta’ala).
Artinya : Sengaja aku menyucikan daripada mayit ini fardhu atasku karena Allah Ta’ala.

d. Kemudian dari pada itu, diambil wudhu’ bagi mayit,lafadz niatnya adalah :

(Nawaitul wudhu-a lihaadzal mayyit lillahi Ta’ala). Artinya : Sengaja aku mengambil wudhu’ bagi mayit ini karena Allah ta’ala.

Setelah itu baru disiram dengan air bedara dan dengan air kapur barus untuk menghilangkan bau dan supaya menjadi harum dan segar.

e. Kemudian daripada itu, disiram air berkali-kali (3 kali atau 5 kali atau lebih) dengan jumlah bilangan ganjil yang terakhir dicampur dengan air kapur barus. Namun hal yang lazim dikerjakan adalah 9 kali menyirami air yang disebut dengan cuci sembilan (mandi sembilan) sebagaimana yang disebut dalam Kitab Arab Melayu “KIFAYATUL GHULUM” karangan Syekh Ismail Minang Kabau,yaitu dengan cara sebagai berikut :
1. Mula-mula mayat dimiringkan kekiri,kalau menyiram air kesebelah kanannya 3 kali sambil membaca do’a :

(Ghufraanaka yaa Allah rabbana wailaikal mashiir)

2, Kemudian dimiringkan ke sebelah kanan, lalu menyiramkan air ke sebelah kirinya 3 kali sambil membaca do’a :

(Ghufraanaka yaa rahman rabbana wailaikal mashiir)

3, Kemudian membetulkan mayat itu (tertelentang) lalu menyiram air ke sebahagian mukanya mulai dari kepala sampai ke ujung kakinya 3 kali seperti di atas,sambil membaca do’a :

(Ghufraanaka yaa Allah yaa rahim rabbana wailaikal mashiir).

4. Setelah itu kita angkat kepala mayat tersebut sedikit menghadap kea rah kiblat, lalu dibacakan syahadat bagi mayit. Yaitu :
(Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahulmulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir)

4. Tanbihun

1. Mengambil wudhu’ bagi mayat itu adadua cara, yaitu :
a. Seperti mengambil wudhu’ bagi orang yang masih hidup saja.
b. Pendapat lain seperti mandi sembilan dengan mengucurkan (menyiramkan) air tiga kali sebagaimana cara diatas.
2. Jika mayat laki-laki (umumnya anak-anak) yang tidak bisa dibuka kulubnya (kulit yang menutup ujung zakarnya), untuk mengharuskan sholat baginya.hendaklah ditayamumkan. Lafadz niat tayammum adalah :

(Nawaitul tayammuma lihaadzal mayyit il-istibaahatis sholaati ‘alaihi fardhan lillahi ta’ala)
Artinya : Sengaja aku memtayamumkan bagi mayit ini, karena mengharuskan sembahyang atasnya karena Allah ta’ala.

3. Tayammum itu dikerjakan sesudah seleasai wudhunya.

B. Cara Mengkafani Jenazah

1. PENDAHULUAN
Sesudah mayit di mandikan, maka cawatnya dipasang (ukuran cawat adalah 1 meter dari pemotongan sisa baju).

2. UKURAN PEMOTONGAN KAIN KAFAN
Panjang kain kafan ± 15,5 meter, dengan potongan kain sebagai berikut :
a. Kafan 2 lapis dengan panjang @ 2,5 m X lebar kain + 0,5 m lebar potong kain. Total 7,5 meter
b. Baju dengan panjang 2,5 meter, diambil 2/3 dari lebar. Sisanya 1/3 untuk sorban. Total 2,5 meter
c. 1,5 meter untuk lengan baju, 2/3 dari lebar untuk baju. Sisanya 1/3 untuk anak baju. Total 1,5 meter
d. 1 meter untuk sal atau selendang. Total 1 meter
e. 1,5 meter untuk ikat pinggang (1/3 dari lebar). Total 1,5 meter

3. CARA MENGKAFANI JENAZAH

Mula-mula kita siapkan segala sesuatunya yang diper-lukan untuk mengkafani mayat (kain kafan dan lain-lain). Kemudian sobek / koyak bagian tepi kain kafan tersebut, setelah itu potong kain kafan tersebut (sesuaikan dengan ukuran pemotongan kain kafan sebagaimana telah disebut pada huruf B di atas). Hal tersebut hendaklah disesuaikan dengan kondisi badan / fisik si mayat. Seterusnya buatlah bajunya, kain sarungnya, cawatnya serta sorban bagi mayat laki-laki atau kerudung bagi mayat perempuan. Disunnatkan pada pertama kali menyobek kain tersebut dengan membaca :

(Allahummaj’al libaasahu (ha) ‘anil kariim wa adkhilhu (ha) Ya Allahu ta’ala birahmatikal Jannata yaa arhamarraahimiin.

Adapun cara meletakkan kain kafan itu ialah dibujurkan ke arah kiblat (letak kaki mayat ke arah qiblat) jika tempat mengizinkan. Susunannya adalah sebagai berikut :
a. Letakkan tali kain kafan sebanyak 5 helai
b. Kain kafan pertama dibentangkan
c. Ikat pinggang mayat dibentangkan
d. Kain kafan kedua dibentangkan
e. Selendang / sal dipasang
f. Sorban dibentangkan di atas sal / selendang
g. Baju dibentangkan
h. Anak baju dibentangkan di atas baju
i. Kain sarung dibentangkan di atas baju
j. Kapas ditebarkan di atas baju dan kain sarung
k. Selasih serbuk cendana dan wewangian ditabur di atas kapas
Hendaknyalah mendahulukan kain yang kanan dari pada kain yang kiri

Untuk Diketahui

Sebenarnya mengkafani mayat itu sama saja, yaitu dengan maksud membungkus kain itu ke seluruh tubuh si mayat sehingga tidak ada lagi bagian tubuh yang terbuka. Bagi mayat laki-laki diutamakan lima lapis kain selain gamis (baju dan sorban) dan bagi mayat perempuan lima lapis kain selain telekung / kerudung dan celana cawatnya . namun demikian atas ketiadaan, cukup sekedar menutupi seluruh anggota tubuhnya saja.

C. CARA MENSHOLATKAN JENAZAH

1. Sebelum sholat jenazah berlangsung hendaknya imam mengatur barisan (saf) makmum, Makmum berdiri di belakang imam bersaf-saf. Lebih banyak jemaahnya lebih utama. Apabila jemaahnya sedikit usahakan buat tiga saf.
2. Jika jenazahnya itu laki-laki, maka imam berdiri di arah kepala jenazah. Lihat gambar berikut ini

3. Jika jenazahnya itu perempuan, maka imam berdiri di arah perut jenazah. Lihat gambar berikut ini :

4. Niat, yakni berniat mendirikan shalat jenazah karena Allah
Adapun lafadz niat shalat jenazah laki-laki adalah sebagai berikut :

(Ushollii ‘Alaa Haadzal mayyiti Arba’a Takbiirootin Fardlol lillahita’aalaa)
Artinya : Aku niat sholat atas mayat ini empat takbir fardu (kifayah) karena Allah Ta’ala.
Jika jenazahnya itu perempuan , lafadz niatnya adalah :

(Ushollii ‘Alaa Hadzal mayyiti Arba’a Takbiirootin Fardlol lillahita’aalaa)
Artinya : Aku niat sholat atas mayat ini empat takbir fardu (kifayah) karena Allah Ta’ala.

Setelah mengucapkan lafadz niat sholat jenazah tersebut, kemudian membaca takbir pertama yaitu :
“Allahu Akbar”

Setelah mengucapkan takbir membaca surah Al-Fatihah,

Bismillaahir Rahmanir Rahim Alhamdu lillahi Robbil “alamin. Arrahmanir Rohim. Maliki yaumiddin. Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in. Idninas shirathal mustaqim. Shirathalladzina an’amta alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim waladh dhallien. Amin

Artinya : Dengan nama Allah yang maha Pengasih lahi maha penyayang. Segala puji-pujian itu tertentu bagi Allah. Tuhan yang memiliki sekalian alam. Yang pengasih lagi penyayang. Raja yang memiliki hari pembalasan (hari qiamat). Kepada Engkaulah (han) kami menyembah dan kepada Engkaulah (Tuhan) kami mohon pertolongan. Tunjukkanlah (pimpinlah) kami ke jalan yang lurus (Benar) yaitu jalan yang telah Engkau beri nikmat atas diri mereka itu (para Nabi dan para Rasul) bukan jalan yang dimurkai atas mereka (Yahudi) dan bukan pula jalan mereka yang telah sesat. Perkenankanlah permohonan kami ini.

Setelah selesai membaca surah Al-Fatihah dilanjutkan dengan bertakbir (takbir kedua) dan membaca sholawat Nabi Muhammad SAW, yaitu :
(Allaahumma Sholli ‘alaa Muhammad Wa’alaa aali Muhammad)

Atau boleh membaca :
(Allaahumma Sholli Alla Sayyidinaa Muhammad Wa ’alaa aali Sayyidinaa Muhammad)
Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada yang mulia Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya.


Kemudian membaca takbir ketiga dan dilanjutkan dengan membaca do’a untuk mayat, yaitu :
(Allahummaghfirla- huu Warhamhuu Waafihii Wa’fuanhu Waakrim Nuzulahuu Wawassi’ Madkholahuu Waj’alil Jannata Matswahuu)
Artinya : Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat padanya, berilah maaf kepadanya, muliakanlah kedatangannya, luaskanlah tempatnya dan jadikanlah surga tempat kembalinya.
Kemudian membaca takbir keempat, kemudian dilanjutkan dengan membaca do’a :
(Allahumma Laa Tahrimnaa Ajrohuu Walaa Taftinnaa Ba’dahuu Wagfir)
Artinya : Ya Allah, janganlah Engkau rugikan kami dari pada ganjarannya dan janganlah Engkau beri kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.
Sehabis mengucapkan do’a, kemudian mengucapkan “SALAM” :
(Assalaamu ‘ alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh)
Artinya : Selamat sejahtera atas kamu sekalian, semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan.

PENJELASAN :
a. Jika mayatnya itu laki-laki, memakai domirhu ( ), misalnya “Allaahummagfirlahuu”
b. Jika mayatnya itu perempuan domirnya “Hu” diganti dengan “ha” ( ), misalnya : “Allaahummagfirlahaa”
c. Jika mayatnya itu 2 orang, maka domirnya memakai “Huma” ( ), misalnya : “Allaahummagfir Lahumaa”
d. Jika mayatnya itu banyak, maka domirnya memakai ”Hum” ( ) misalnya : “Allahumagfirlahum “

D. MENGANTARKAN JENAZAH KE KUBUR

Sesudah mayat dimandikan, dikafani dan isholati, selanjutnya jenazah dibawa ke kubur. Sebelum jenazah diberangkatkan ke tempat pemakaman, hendaklah diadakan sekedar upacara keberangkatan jenazah dengan secara singkat. Pemberi acara itu bisa dilakukan oleh pemuka agama (Kyai) atau orang yang dianggap mampu untuk memberikan ceramahnya. Dalam upacara yang isinya antara lain :
1. Menyampaikan ucapan terima kasih kepada hadirin atas ikut serta duka citanya.
2. Memintakan ma’af kepada para hadirin dan handaitaulan atas segala kesalahan dan kekhilafannya yang mungkin diperbuat oleh si mayat semasa hidupnya.
3. Memberitahukan kepada para hadirin dan handaitaulan yang mungkin si jenazah mempunyai hubungan hutang piutang atau pinjam meminjam dan sebagainya, maka hak dan kewajiban si mayat beralih kepada orang-orang yang menjadi ahli warisnya.
4. Mau’idhoh Hasanah yang ada hubungannya dengan kematian seseorang (Tazkirul Mauut).
Pada umumnya pelaksanaan upacara pelepasan jenazah ini dilakukan di muka rumah duka sewaktu hendak diberangkatkan ke masjid untuk mensholati jenazah.
Setelah upacara selesai kemudian hendaknya dipikul pada empat penjuru berjalan membawa jenazah dengan segera. Maksud segera diberangkatkan menurut sabda Nabi Muhammad SAW :
Artinya : Dari Abi Huroiroh, r.a. Rasulullah S.A.W. : “Hendaklah kamu segera bawa jenazah itu, karena jika ia orang shaleh, maka kamu melekaskannya kepada kebaikan, tetapi jika ia bukan orang shalelh maka supaya kejahatannya itu lekas terbuang dari tanggungannya. (H.R. Jama’ah)
Jika seseorang sedang melihat jenazah lewat hendaklah ia memberi penghormatan dengan cara berdiri sambil mengucap-kan do’a :
(Subhaanal Hayyil Ladzii Laa Yamuutu)
Artinya : Maha suci zat yang maha hidup dan tidak akan mati.
Dalam penghormatan terhadap jenazah tersebut tidak pan-dang jenazah tersebut muslim atau non muslim, karena hal ini sesuai dengan hadits nabi Muhammad SAW yang menyebutkan :
Artinya : dari Jabir, r.a. katanya Telah lewat di depan kami jenazah, lalu Nabi Muhammad SAW berdiri, kamipun berdiri pula, lantas kami katakan kepada beliau bahwa jenazah itu, jenazah Yahudi, Beliau bersabda : Apabila kamu melihat jenazah maka hendaklah kamu berdiri. (H.R. Bukhari)

E. CARA MENGUBURKAN JENAZAH

Mengubur mayat hukumnya adalah fardu kifayah bagi orang yang masih hidup, mayat sebelum dimakamkan maka perlu diperhatikan tata cara menguburnya, yaitu antara lain :

1. Cara Membuat Liang Kubur
- jenazah sebelum diantar ke kubur, liang kubur harus sudah siap
- Ukuran liang kubur :
a. Dalamnya kadar orang berdiri tegak dan dilebihi satu hasta (± 50 s/d 75 centi meter)
b. Lebarnya kira-kira 1 meter
c. Panjangnya : sepanjang jenazah dan ditambah 0,5 meter.

2. Bentuk Liang Kubur
Liang kubur dengan ukuran sebagaimana telah diuraikan sebelumnya dan nhendaknya di tengahnya diberi semacam parit seluas dan sepanjang mayat serta diberi dampingan papan atau lainnya pada kedua sampingnya serta diberi semacam atap terbuat dari papan atau bambu. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai terbau dan tidak mudah terbongkar oleh binatang buas. Selain itu juga untuk menjaga kehormatan mayat dan kesehatan orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut.
3. Cara Mengubur Jenazah
a. Ada tiga (3) orang (umumnya kerabat dekat jenazah) turun terlebih dahulu ke dalam liang kubur untuk menerima mayat :
- Seorang menerima bagian kepala mayat
- Seorang menerima bagian perut mayat
- Seorang lagi menerima bagian kaki mayat
b. Ada beberapa orang di atas mengangkat mayat dengan pelan-pelan dari tempat pengangkutan mayat (kerendo) kemudian diterimakan kepada tiga orang yang sudah siap menerima (berada dalam liang kubur).
c. Sewaktu akan memasukkan jenazah ke dalam liang kubur hendaknya yang memasukkan jenazah itu membaca do’a :
“Bismillaahi Wa’alaa Milati Rosuulillahi”
Artinya : Denganmenyebut ama Allah dan atas tetapnya agama Rosulullah
d. Posisi Mayat Dalam Kubur
1. Setelah jenazah/mayat berada dalam liang kubur hendaknya mayat dimiringkan menghadap ke kiblat.
2. Tali-tali yang ada terutama pada bagian kepala dan kaki supaya dilepas dengan maksud agar wajah dan kaki, sebab dua anggota tubuh tersebut adalah bagian dari anggota sujud dalam melaksanakan sholat.
3. Dibagian kepala, punggung dan belakang paha hendaknya diberi penyangga atau gelu yaitu terbuat dari tanah yang dibulatkan (ganjal istilah bahasa jawa), agar posisi mayat dalam keadaan tetap miring. Lazimnya disiapkan sebanyak minimal 7 (tujuh) buah gelu. Sewaktu pembuatan gelu seyogyanya membaca surat Al-Qodr.
Bagian-bagian peletakan gelu adalah :
(a) Tumit
(b) Pelipatan lutut
(c) Pinggang
(d) Punggung
(e) Leher
(f) Tengkuk
(g) Di belakang kepala.

4. Pipi atau hidung mayat yang kanan harus menem-pel pada tanah, oleh karena itu wajah mayat hendaknya terbuka.
5. Setelah posisi mayat sudah tertib dan sebelum liang kubur ditutup dengan papan atau bambu atau dengan benda lainnya, mayat agar diadzani dan diiqomatkan.
6. Setelah diadzani dan diiqomatkan.selanjutnya liang kubur dipasang kayu dako sebanyak 3 buah dan diletakkan di atasnya papan dako.sebagai penutup, kemudian baru ditimbuni dengan tanah secara perlahan-lahan.
7. Timbunan tanah itu agar diratakan dan diberi nisan atau tanda, dalam memberi nisan dapat menggunakan dengan batu atau kayu atau lainnya.
8. Setelah selesai semuanya, seyogyanya si mayat dibacakan talqin oleh pemuka agama.
Sabda Nabi Muhammad SAW :
Artinya : Dari Usman, Nabi Muhammad SAW apabila selesai dari menguburkan mayat, beliau selalu berdiri lalu bersabda : Mintakan ampun saudaramu dan mintakanlah olehmu agar ia diberi ketetapan iman karena sekara ia sedang ditanyai. (H.R. Abu Daud dan Hakim).

TALQIN

Terhadap mayat yang baru dikubur, harap dibacakan Talqin (Al-Adzkar). Talqin yang berlaku di kalangan Ahlus Sunnah adalah sebagai berikut :
Saudara-saudara yang berbahagia Allah Subhaanahuu Wata’aalaa telah berfirman di dalam Al-Qur.an yang artinya :
Semua mahluk yang mempunyai roh akan merasakan mati, dan manusia setelah mati kelak (Hari Kiamat) akan memerima balasan setimpal dengan amal perbuatannya ketika di dunia, maka barang siapa berbuat buruk akan dibalas masuk neraka dan barang siapa berbuat baik akan dibalas masuk surga.

Saudara mayit .......... pegang teguhlah janjimu yaitu ucapan Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah. Ketahuilah bahwa surga itu benar-benar ada, nerakapun juga ada dan sesungguhnya mati itu benar-benar terjadi dan alam barzah itupun benar-benar ada sebagaimana yang sedang engkau alami.
Dan demikian pula pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir pun demikian juga, yang lain-lain seperti khisab, mizan bangkit dari kubur, telaga, pengadilan akhirat, syafaat, sirotol mustaqim, kumpulnya manusia di padang makshsyar, dan kesempatan bagi orang-orang mukmin itu menyaksikan keagungan Allah adalah benar-benar nyata dan ada.
Saudara mayit ............ mulai hari ini kamu bermukim di alam barzah ini, ini semua merupakan realitanya firman Allah.
Dari bumi, kami ciptakan kamu, dan di dalamnya kami mengembalikan kamu, dan dari padanya kami mengeluar-kan kamu sekali lagi.
Sebentar lagi kamu akan kedatangan malaikat Munkar dan Nakir perlu akan menanyakan kamu.
Pertanyaannya demikian :
Hai manusia siapa Tuhan mu ?, siapa Nabi mu ?, apa Kitab Suci mu, apa agama mu ? dimana Kiblat mu ?, dan siapa saudara mu ?
Maka jawablah :
Allah itu Tuhan ku, Nabi Muhammad S.A.W. Nabi ku, Al-Qur’an Kitab suci ku, Islam agama ku, Ka’bah Kiblat ku, dan seluruh orang Islam baik laki-laki maupun perempuan saudara ku.
Dari : http://infosurga.blogspot.com

Monday, January 20, 2014

Tata cara Jima' dalam Islam

1. Bersih Diri dan berwudhu Mengkondisikan tubuh bersih (dengan mandi dan gosok gigi) adalah bagian dari adab jima’ sekaligus membuat suami atau istri lebih tertarik. Sebaliknya, tubuh yang tidak bersih cenderung mengganggu dan menurunkan daya tarik. Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari pernah menggilir istri-istri beliau, beliau mandi tiap kali selesai berhubungan bersama ini dan ini. Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah lebih baik engkau cukup sekali mandi saja?” Beliau menjawab, “Seperti ini lebih suci dan lebih baik serta lebih bersih.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
2. Memakai parfum/wewangian Wewangian adalah salah satu sunnah Nabi. Beliau bersabda: “Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi). Bagi istri, memakai parfum/wewangian yang dianjurkan adalah saat-saat seperti ini, bukan pada waktu keluar rumah yang justru dilarang Rasulullah. “Perempuan manapun yang menggunakan parfum kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya maka dia seorang pezina” (HR Ahmad) Yang perlu diperhatikan di sini ialah, aroma atau jenis wewangian yang dipakai hendaknya yang disukai suami atau istri. Sebab, ada suami atau istri yang tidak menyukai aroma wewangian tertentu. Wewangian yang tepat membuat hasrat suami atau istri semakin meningkat.
3. Shalat dua raka’at Adab ini terutama bagi pengantin baru. Sebagaimana atsar Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang menasehati pengantin baru agar mengajak istrinya shalat dua raka’at terlebih dahulu ketika memulai malam pertama.
4. Berdandan dan berpakaian yang disukai suami atau istri Adakalanya istri malu memakai pakaian minim yang disukai suaminya. Padahal dalam sebuah hadits disebutkan “Sebaik-baik istri kalian adalah yang pandai menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat. Yakni keras menjaga kehormatan dirinya lagi pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR. Ad Dailami). Senada dengan hadits itu, Muhammad Al Baqir, cicit Husain bin Ali menjelaskan: “Sebaik-baik wanita diantara kalian adalah yang membuang perisai malu ketika menanggalkan pakaian di hadapan suaminya dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian kembali.” Hadits dan maqalah ini juga menjadi dalil bahwa di dalam jima’, suami istri boleh menanggalkan pakaian dan tidak haram melihat aurat masing-masing.
5. Jima’ di tempat tertutup Islam mengatur kehidupan umat manusia agar kehormatan dan kemuliaannya terjaga. Demikian pula dengan jima’. Ia harus dilakukan di tempat tertutup, tidak diketahui oleh orang lain meskipun ia adalah anak atau keluarga sendiri. Karenanya saat anak berumur 10 tahun, Islam mensyariatkan untuk memisahkan kamar anak-anak. Kamar anak laki-laki terpisah dari kamar anak perempuan. Bagaimana jika anak masih kecil dan tidurnya bersama orang tua? Pastikan ia tidak melihat aktifitas suami istri tersebut. Caranya bisa Anda berdua yang pindah kamar.
6. Berdoa sebelum jima’ Yakni membaca doa: بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا “Dengan Nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari syetan, dan jauhkan syetan agar tidak mengganggu apa (anak) yang Engkau rezekikan kepada kami” (HR. Bukhari dan Muslim)
7. Melakukan mubasharah, ar rasuul, foreplay, atau pemanasan Hendaknya suami tidak langsung ke inti, tetapi ada mubasharah/ar rasuul/ foreplay terlebih dulu. “Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu,” (HR. Tirmidzi)
8. Membawa ke puncak, saling memberi hak “Apabila salah seorang diantara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)
9. Mencuci kemaluan dan berwudhu jika mau mengulangi “Jika salah seorang di antara kalian mendatangi istrinya, lalu ia ingin mengulanginya, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Muslim)
10. Mandi besar (janabat) setelah jima’
Dari : http://www.muslimcommunity.co/