Monday, January 12, 2015

Tenaga Eksogen

Tenaga eksogen yaitu tenaga yang berasal dari luar bumi. Tenaga Eksogen yang mengubah bentuk muka bumi dipengaruhi oleh 3 proses yaitu : 
1. Proses Pelapukan.
    Proses pelapukan adalah proses penghancuran batuan menjadi bentuk yang lebih kecil.
    Proses pelapukan dibedakan atas 3 bentuk yaitu :
    a. Pelapukan Fisika/Mekanik.
        Pelapukan Fisika/Mekanik atau disebut pula desintregasi adalah proses penghancuran batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil tanpa mengubah komposisi atau susunan kimianya. seperti karena :
        1). Penyinaran Matahari.
        2). Perubahan suhu.
        3). Pembekuan air pada celah-celah batuan.
    b. Pelapukan Kimia.
        Pelapukan Kimia atau disebut pula dekomposisi adalah proses penghancuran dengan mengubah susunan kimiawi batuan yang terlapukkan. beberapa jenis pelapukan kimia adalah :
        1). Proses oksidasi.
        2). Proses Hidrolisa.
   c. Pelapukan Biologik-Mekanik.
       Pelapukan Biologik-Mekanik atau organik adalah pelapukan yang disebabkan oleh makhluk hidup, baik tumbuhan maupun binatang.
2. Proses Erosi.
    Erosi adalah proses penghancuran tanah dan kemudian dipindahkan ketempat lain oleh kekuatan air, es, angin, dan gravitasi. berdasarkan penyebabnya erasi dibagi atas 3 yaitu : 
    a. Erosi oleh air.
    b. Erosi oleh angin.
    c. Erosi oleh es atau gletser.
3. Proses Sedimentasi.
    Sedimentasi adalah proses pengendapan materi-materi hasil erosi yang dibawa oleh tenaga pengangkut seperti air, angin, gelombang laut, dan gletser. bentukan hasil pengendapan ini diantaranya adalah :
    a. Delta.
    b. Beach.
    c. Sand Dunes.
    d. Bar.
    e. Tombolo.







Sunday, January 11, 2015

Tenaga Endogen

Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga Endogen dibagi atas tiga kelompok yaitu :
A. Diastropisme.
    Diastropisme adalah tenaga yang bekerja dari dalam bumi yang mengakibatkan pergeseran dan perubahan posisi lapisan batuan sehingga mengubah bentuk muka bumi. Diastropisme dibedakan mejadi 2 yaitu :
a. Epirogenesis.
    Epirogenesis adalah pengangkatan jalur kerak bumi sehingga membentuk pegunungan yang berlangsung sangat lambat dan meliputi daerah yang sangat luas.
b. Orogenesis.
    Orogenesis adalah proses pembentukan pegunungan (mountain building) atau pengangkatan kerak bumi karena tumbukan lempeng.
Beberapa contoh bentukan tenaga endogen :
1. Sesar/ Faults.
    Sesar atau patahan adalah retakan pada kerak bumi akibat adanya pergeseran pada batuan.
2. Lipatan dan gejala perlipatan.
    Lipatan adalah bentuk ombak atau gelombang pada suatu lapisan kulit bumi, yang ditunjukkan oleh perlapisan batuan.
B. Vulkanisme.
     Vulkanisme adalah segala kegiatan magma dari lapisan dalam litosfer menyusup ke lapisan yang lebih atas atau sampai keluar ke permukaan bumi. Aktifitas tersebut mengakibatkan bentukan berupa kerucut  atau kubah yang berdiri sendiri dan disebut gunung api. ada beberapa tipe gunung api yaitu :
a. Gunung api corong atau maar.
    Gunung api corong atau maar yaitu gunung api hasil erupsi eksplosif atau berupa ledakan yang posisi dapur magmanya relatif dangkal sehingga gunung api tersebut berhenti aktifitasnya dengan hanya satu kali ledakan.
b. Gunung api Perisai aatau aspit.
    Gunung api Perisai aatau aspit yaitu gunung api hasil erupsi efusif atau erupsi berupa aliran.

c. Gunung api strato.
    Gunung api strato yaitu gunung api berbentuk kerucut yang tinggi dengan lereng yang curam.




Saturday, January 10, 2015

Ketampakan Alam di Perairan

Ketampakan alam di perairan, antara lain :
1. Pantai 
    Pantai adalah dataran yang berbatasan dengan laut yang bermanfaat sebagai tempat pariwisata, perikanan dan hutan bakau.
2. Sungai.
    Sungai adalah aliran air yang besar dan memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir (muara). sungai dimanfaatkan sebagai tenaga pembangkit listrik dan sarana kebutuhan hidup penduduk.
3. Danau.
    Danau adalah genangan air yang amat luas yang dikelilingi daratan.
4. Selat.
    Selat adalah perairan atau laut sempit yang menghubungkan dua buah pulau.
demikian beberapa contoh kenampakan alam perairan.


Ketampakan Alam Di Daratan

Ketampakan alam yang ada di daratan antara lain :
1. Dataran Rendah.
    Dataran rendah adalah bagian dari permukaan bumi denga letak ketinggian 0-200 m dari permukaan laut (dpl).
2. Dataran Tinggi.
    Dataran tinggi adalah daerah datar yang memiliki ketinggian lebih dari 400 m di atas permukaan laut (dpl), Contoh Alas (NAD), Kerinci (Sumbar).
3. Gunung.
    Gunung adalah sebuah bentuk tanah yang menonjol di atas wilayah sekitarnya.
4. Pegunungan.
    Pegunungan adalah bagian dari daratan yang merupakan kumpulan deretan dari gunung dengan ketinggian 700 meter diatas permukaan laut.
demikian pelajaran singkat tentang kenampakan muka bumi daratan, semoga bermanfaat.

Friday, January 9, 2015

Dalil-Dalil Tentang Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Oleh Prof. Dr. As-Sayyid Muhammad Al-Maliki, tentang Maulid Rasul S.A.W.


Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia islam, kaum muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Telah ratusan tahun kaum muslimin merayakan maulid Nabi Saw, Insan yang paling mereka cintai. Tetapi hingga kini masih ada saja orang yang menolaknya dengan berbagai hujjah. Diantaranya mereka mengatakan, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai Eid (Hari Raya) yang syar’i, seperti Aidul Fitri dan Aidul Adha. Padahal, peringatan itu, menurut mereka, bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran agama. 

Benarkah demikian? Apakah yang mereka katakan itu sesuai dengan prinsip-prinsip agama, ataukah justru sebaliknya?

Di antara ulama terkenal dunia yang banyak menjawab persoalan-persoalan seperti itu, yang banyak dituduhkan kepada Ahli Sunnah wal Jama’ah, adalah As-Sayyid Al-Muhaddits Al-Imam Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Berikut ini adalah nukilan huraian dan ulasan beliau mengenai hal tersebut, sebagaimana termaktub dalam kitabnya 'Zikrayat wa Munasabat' dan 'Haul Al Ihtifal bi Zikra Maulid An-Nabawi Asy-Syarif'

Hari Maulid Nabi S.A.W. lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada kedua Eid. Aidul Fitri dan Aidul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi S.A.W., mengingat baginda dan sirahnya, mesti berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat. Hari kelahiran baginda lebih agung daripada mana-mana Eid, walaupun kita tidak menamakannya Eid.

Mengapa?

Karena baginda-lah yang membawa Eid dan pelbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena baginda juga, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran baginda, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzul Quran, Isra Mikraj, Hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Futuh Mekah, kerana semua itu terhubung langsung dengan baginda dan kelahirannya; merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.

Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut. Di antaranya yang disebutkan oleh Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebelum mengemukakan dalil-dalil tersebut, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.

Pertama: Kita memperingati Maulid Nabi bukan hanya pada hari kelahirannya, tapi selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan, ketika kita mendapatkan kegembiraan, lebih-lebih lagi pada bulan kelahiran beliau, iaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran baginda, hari Isnin.

Tidak layak seorang yang berakal bertanya, “Mengapa kamu memperingatinya?”  Seolah-olah dia bertanya, “Mengapa kamu bergembira dengan adanya Nabi S.A.W.?”.

Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang yang Islam, yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak memerlukan jawaban. Seandainya saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan baginda, saya gembira dengan baginda, sebab saya mencintainya, dan saya mencintainya sebab saya seorang mukmin”.

Kedua: Yang dimaksudkan dengan peringatan Maulid adalah, berkumpul untuk mendengarkan sirah baginda dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri baginda, juga memberi makan orang-orang yang hadir, memuliakan orang-orang fakir dan mereka yang memerlukan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai baginda.

Ketiga: Kita tidak mengatakan bahawa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu, yang dinyatakan oleh nas-nas syariat secara jelas, seperti sembahyang, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak macam itu. 

Peringatan Maulid tidak seperti sembahyang, puasa, dan lain-lain. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian, terutama pada bulan Maulid.

Keempat: Berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah ajakan terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh diabaikan. Bahkan, para da'i dan ulama, wajib mengingatkan manusia tentang Nabinya, baik akhlaknya, hal ehwalnya, sirahnya, muamalahnya, mahupun ibadahnya. Di samping itu menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bidaah, keburukan, dan fitnah.
---
Yang pertama merayakan Maulid Nabi adalah Sohibul Maulid sendiri, iaitu Nabi S.A.W., sepertimana yang disebutkan dalam Hadis Sahih, yang diriwayatkan Imam Muslim bahawa, ketika baginda ditanya mengapa berpuasa pada hari Isnin, baginda menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nas yang paling jelas dan terang yang menunjukkan bahawa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’. 

Banyak dalil yang boleh kita jadikan dasar, untuk diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W.

1. Peringatan Maulid Nabi S.A.W. adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan baginda. Bahkan orang kafir pun mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu; Ketika Suwaibah, hamba Abu Lahab, pakcik Nabi S.A.W., menyampaikan berita gembira tentang kelahiran Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka gembira. Oleh kerana kegembiraan dan meraikan kelahiran baginda itu,di akhirat nanti siksa terhadap dirinya diringankan setiap hari Isnin dan keluar air syurga dari celahan jarinya untuk minumannya. 

Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmatinya, sebab bergembira atas kelahiran Nabi-Nya, bagaimanakah anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?

2. Baginda sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah, pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.

3. Gembira terhadap Rasulullah S.A.W. adalah perintah AI-Quran. Allah S.W.T. berfirman, 
“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.”  Surah Yunus: 58

Jadi, Allah sendiri meminta kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi S.A.W. merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, 
“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” Al-Anbiya’: 107

4. Nabi S.A.W. mengambil berat kaitan antara masa dan kejadian dalam Islam yang besar yang telah lalu. Apabila datang masanya hari peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.

5. Memperingati Maulid Nabi S.A.W. mendorong kita untuk berselawat, dan selawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, 
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.”  Al-Ahzab: 56

Apa-apa yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, bererti itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.

6. Dalam Maulid, disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang peribadinya. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk menirunya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya?! Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.

7. Maulid Nabi juga merupakan ungkapan membalas jasa baginda dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepadanya dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaknya yang utama.
Dulu, di zaman Nabi S.A.W., para penyair datang kepada baginda menyampaikan qasidah-qasidah yang memujinya. Nabi redha dan senang dengan apa yang mereka lakukan, dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. 

Jika baginda pun redha dengan orang yang memujinya, bagaimana baginda tidak redha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang akhlaknya yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepadanya, iaitu dengan menarik kecintaannya dan keredhaannya.

8. Mengenal sikap dan peribadi baginda S.A.W., mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menambahkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.

Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, samada fizikalnya mahupun akhlaknya, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlak dan sikap Nabi S.A.W. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa sahaja yang menambahkannya juga merupakan tuntutan agama.

9. Mengagungkan Nabi S.A.W. itu disyariatkan, bahagia dengan hari kelahirannya dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingatnya, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah bukti mengagungkannya, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.

10. Dalam ucapan Nabi S.A.W. tentang keutamaan hari Jumaat, disebutkan bahawa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan”. 

Ini menunjukkan dimuliakannya waktu masa seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari dilahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulia?

11. Maulid juga adalah perkara yang dipandang baik oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Sebab itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan kaedah yang diambil dari hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, 
“Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, ia pun baik di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”

12. Dalam menyambut Maulid Nabi, didalamnya berkumpulnya umat, zikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi S.A.W. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.

13. Allah S.W.T. berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad), yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’Surah Hud: 120

Dari ayat ini nyatalah bahawa hikmah dikisahkan tentang para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak dinafikan lagi di saat ini kita pun perlu untuk menguatkan hati kita dengan berita-berita tentang baginda, lebih dari keperluan baginda akan kisah para nabi sebelumnya.

14. Bukan semua yang tidak pernah dilakukan Salafussoleh dulu dan tidak ada di awal Islam memberi erti bidaah yang munkar dan buruk. Melainkan apa yang 'baru' itu (yang belum pernah dilakukan) mesti dinilai berdasarkan dalil-dalil syara’.

15. Bukan semua bidaah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Zaid, Sayyidina Usman, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. 

Adakah haram ketika Sayyidina Umar mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan sembahyang Tarawih, sedangkan beliau mengatakan, “Sebaik-baik bidaah adalah ini.” 

Banyak lagi perbuatan baik yang sangat diperlukan umat Islam namun dikatakan bidaah yang haram apabila semua bidaah itu diharamkan.

16. Maulid Nabi S.A.W., meskipun tiada di zaman Rasulullah S.A.W., sehingga menjadi bidaah; adalah bidaah hasanah (bidaah yang baik). Ia termasuk di dalam dalil-dalil syara’ dan kaedah-kaedah kuliyah (yang bersifat global).

Jadi, Maulid Nabi itu bidaah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan peranan-peranan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di zaman Nabi.

17. Semua yang tidak ada pada awal Islam dalam bentuknya, tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Sebab, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.

18. Imam Syafie mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi S.A.W.) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bidaah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “
19. Setiap kebaikan yang terangkum dalam dalil-dalil syar’i, ianya tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandungi suatu kemungkaran, itu termasuk ajaran agama.

20. Maulid Nabi S.A.W. bererti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang kita lihat, sebagian besar amalan haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

21. Semua yang disebutkan di atas, tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nabi S.A.W., hanyalah pada amalan-amalan atau perbuatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan mungkar yang tercela, yang wajib ditentang.

Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib ditentang, seperti bercampurnya lelaki dan perempuan, perbuatan perbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diredhai Sohibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut .

Wednesday, January 7, 2015

Natal

Prof. H.S. Tharick Chehab

Pada zaman purba pendewaan  matahari  lazimnya  terdapat  di negara-negara yang kebudayaannya sudah agak tinggi. Matahari sebagai  sumber  cahaya  dan  sumber  hidup.  Dewa  matahari Amaterasu    di   Jepang,   dewa   matahari   di   Tiongkok, Quetzalcoatle di Mexico dan di Peru.

Dewa Apollo atau Dionysus di antara  orang  Yunani  (Griek), Hercules di antara orang Romawi, Mithra di antara orang Iran (Persia), Adonis dan Atis di  Syria  dan  Phrygia  (Anadol), Osiris,  Isis  dan Horus di Mesir, Baal Samus dan Astarte di antara orang Babil (Babylonia) dan Karthago, dan seterusnya.
Semua  dewa  matahari  ini  dilahirkan  sekitar  tanggal  25 Desember dari seorang dara  di  sebuah  gua,  dan  dinamakan Pembawa-Terang,   Perantara,   Juru-Selamat,  Pembebas,  dan sebagainya.

Mithraism,  sebagai  diakui  oleh  St.  Jerome,  lambat-laun terdesak   di   Roma   dan   Alexandna   (Iskandaria)   oleh Christianity.   Tertullian   membenarkan   kenyataan   bahwa Mithraism  lenyap  sesudah Gereja mengambil alih warna-warni dari Mithraism.

Selanjutnya  Tertullian  berkata  bahwa  ulama  di  zamannya menganggap  sama Mithraism dengan Christianity kecuali dalam soal nama.

Padri Farrar dalam  karangannya  "Life  of  Christ"  berkata bahwa  tidak  ada  hujah  yang  memuaskan  untuk  menetapkan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember. Bijbel diam  dalam hal ini, walau mengkisahkan di Lukas 2:8 "Maka dijajahan itu pun ada beberapa  orang  gembala,  yang  tinggal  di  padang menjaga   kawan  binatangnya  pada  waktu  malam."  Hal  ini memustahilkan   menerima   25   Desember   sebagai   tanggal kelahirannya  Yesus  (Natal),  karena  bulan Desember adalah puncaknya  musim  hujan  di  Palestina,  ketika  mana  tidak terdapat  kawan  binatang  atau  gembala di waktu malam pada padang Bethlehem.

Semula Natal dirayakan pada tanggal  6  January  (Epiphany), tetapi pada tahun 353 - 354 Paus Liberius merubahnya jadi 25 Desember. Tidak ada tanda-tanda perayaan Natal  sama  sekali hingga  abad  ke  IV. Baru pada tahun 534 oleh mahkamah Hari Natal dan Epiphany dihitung "Dies Non."

Gereja Griek hingga kini  merayakan  Natal  pada  tanggal  7 Januari. Baru pada kira-kira tahun 533 seorang rahib Scythia bernama Dionysius Exiguus, ketua biara  dan  ahli  nujum  di Roma,   ditugaskan   untuk   menetapkan  tanggal  dan  tahun kelahiran Yesus. Beliau  tidak  memberi  alasan-alasan  yang menguasakan  ia  untuk  menetapkan  25 Desember sebagai hari Natal, tetapi tanggal yang pasti  itu  adalah  tanggal  yang diduganya dari kelahiran kebanyakan dewa-dewa matahari. Dewa matahari Mithra dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Osiris, dewa  matahari  orang  Mesir,  dilahirkan  pada  tanggal  27 Desember. Dewa matahari Horus dan  Apollo  pada  tanggal  28 Desember.

Adapun  tahun  yang  ditetapkan oleh rahib Dionysius Exiguus tersebut, pada abad ke IX ternyata bahwa  rahib  itu  keliru beberapa  tahun, dan diakui bahwa Herodes wafat tahun 4 S.M. Menurut Injil  karangan  Matius  2:16  raja  Herodes,  untuk melenyapkan   kemungkinan   Yesus   menjadi  "raja  sekalian Yahudi," menitahkan agar dibunuh sekalian anak-anak  berumur 2  tahun  dan  di  bawah.  Jadi  tahun kelahiran Yesus harus dimundurkan sekurang-kurangnya  sampai  4  S.M.  Kini,  para sarjana,  memilih  tahun  5  atau 6 S.M. sebagai tarikh yang lebih  cocok  dengan  kisah  dari  Injil-injil  yang  saling bertentangan.  Beberapa  ahli  sejarah  mengundurkan  sampai tahun 8 dan 10 S.M.14

Meskipun demikian, tiap Muslim, percaya akan Nabi  Isa  a.s. dan Injilnya, boleh turut merayakan Maulid Isa al-Masih, dan wajib  mengundang  setiap  orang  bukan-Muslim  untuk  turut merayakan  maulid  Nabi Muhammad s.a.w. sebagai tabligh agar
mereka mengenal Islam.

Natal yang artinya maulid, kelahiran, seperti dalam  istilah Dies  Natalis  (Hari Kelahiran), adalah satu dari kata-kata, misalnya: sekolah, gereja,  keju,  mentega,  dan  sebagainya
yang  bahasa  kita warisi dari bangsa Portugis yang beragama Katolik Roma dan yang mulai datang ke negeri kita pada akhir abad XV

Jelaslah  bahwa  Natal  adalah  Hari Kelahiran Yesus Kristus yang  diperingati  dan  dirayakan   di   gereja-gereja   dan rumah-rumah.  Diperingati  oleh  orang  Kristen  yang  salih dengan pujaan-pujaan  dan  doa-doa,  dengan  saling  memberi hadiah, dan sebagainya. Dirayakan di tempat-tempat dansa dan bar-bar dengan meminum minuman-minuman keras oleh awam  yang acuh tak acuh terhadap agamanya.

Sebagaimana    perayaan    kegerejaan   lain,   juga   Natal menggantikan perayaan orang kafir (jahil). Hari  lahir  yang sebetulnya  dari Yesus yang nama asalnya Yesyua, dan Arabnya Isa,  tidak  ada  yang  mengetahui.  Pada  zaman  itu  bukan kebiasaan  orang awam mencatat hari lahir atau hari wafatnya seseorang. Keluarga Yesus adalah orang-orang sederhana,  dan murid-muridnya  adalah  nelayan,  dan  tidak  biasanya dapat
membaca atau menulis.

Bani Israil, yakni  orang  Yahudi,  menggunakan  penanggalan qamariyah  (maanjaar,  lunar year), bukannya tahun syamsiyah (zonnejaar, solar year).

Semula kedatangan Yesus di muka  bumi  (Epiphany)  dirayakan pada  tanggal  6 Januari. Di beberapa negara, diantaranya di Armenia, kelahiran Yesus masih saja dirayakan  pada  tanggal itu.

Digesernya  ke  tanggal  25  Desember adalah karena pengaruh dari penanggalan Romawi, yang  menyebut  tanggal  itu  "dies invicti solis" yang artinya "hari dari tuhan (dewa) matahari (Mithras) yang telah dikalahkan." Yesus di-umpamakan sebagai "matahari kebenaran" dan "cahaya dunia." Tanggal 25 Desember adalah hari kelahiran Mithras, yang  asalnya  dewa  matahari Iran  yang  kemudian  dipuja di Roma. Hari minggu disebutnya
juga Zondag, Sunday, Sonntag, hari  matahari,  hari  gereja, pengganti hari Sabtu.

Juga  ada  yang berpendapat bahwa Natal itu adalah pengganti dari hari  raya  Romawi  "Saturnalia"  (dari  17  sampai  20 Desember),  atau  pengganti dari perayaan Jerman kuna "Joel" (biasanya 12 hari lamanya, dan pada  masa  itu  harus  damai benar-benar  tak  boleh  diganggu),  dan pendapat ini karena banyaknya upacara-upacara yang  bersamaan:  roti Joel  jadi roti Natal (kerstbrood).

Hari  Natal  pada  tanggal 25 Desember untuk pertama kalinya dirayakan  di  tahun  354  di  Roma  dan  di  tahun  375  di Konstantinopel  dan di tahun 387 di Antakia (Antiochie). Bak
makanan sapi, palungan (crib, kribbe) dengan anak Yesus yang ditempatkan  di  gereja waktu perayaan Natal mulai pada abad VIII, dan penempatan  kribbe  di  rumah-rumah,  sesudah  St. Franciscus  dari  Assisia  merayakan  malam  Natal  di hutan Grecio pada abad XIII

Upacara-upacara yang terbanyak berasal dari adat pada  zaman jahiliyah  seperti  pemberian  hadiah, "hulst" semacam semak atau pohon  yang  selama-lamanya  hijau  (ilex  aquifolium), ranting  dari  pohon mare (viscum album) buat mengusir setan atau arwah jahat dari istal, dan  pohon  Natal  (Kerstboom), ialah  pohon  yang  diperelok  dengan  hiasan dan lilin atau lampu-lampu.

Suasana, pada saat  Yesus  dilahirkan,  yang  dilukiskan  di Injil  karangan  Lukas  2,  tidak  cocok dengan keadaan yang sebenarnya,  karena  di  Palestina  dalam  musim  itu  tidak
layaknya  ada orang gembala di padang pada waktu malam. Juga sensus yang dititah Kaisar Agustus tak  dapat  dipertanggung jawabkan dari sudut sejarah.

Ringkasnya,   perayaan   Natal   adalah   suatu  syncretism, percampuran, dimana unsur-unsur fiction (rekaan)  dan  kafir ada lebih banyak dari unsur-unsur sejarah.